Sunday, 4 December 2016

10 Contoh Karya Seni Rupa Terapan

10 Contoh Karya Seni Rupa Terapan 

Seni rupa terapan adalah karya seni yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan praktis. Macam-macam seni rupa terapan tentu memiliki beragam fungsi. Misalnya untuk beristirahat, memasak, sebagai sarana upacara, tempat tinggal, membantu pekerjaan, dll. Berikut adalah beberapa contoh karya seni rupa terapan: 

1. Rumah Adat 

ardilycans7.blogspot.co.id

Setiap daerah memiliki rumah adatnya masing-masing. Misalnya rumah Gadang di Padang, Joglo di Yogyakarta, dan Candi Bentar di Bali. Bentuk rumah adat tersebut masih digunakan hingga kini walaupun banyak bangunan yang telah memiliki arsitektur modern. Contohnya adalah rumah panggung yang masih banyak digunakan di Kalimantan dan Sumatera untuk menghindari banjir dan hewan buas. Rumah adat dikenal memiliki nilai seni tinggi dan sesuai dengan budaya setempat.


2. Alat Transportasi Tradisional 

ardilycans7.blogspot.co.id

Alat transportasi tradisional di beberapa tempat ternyata masih eksis di tengah perkembangan transportasi modern yang kitan pesat. Setiap daerah pasti memiliki alat transportasi tradisional yang khas. Alat transportasi tradisional seringkali diberi sentuhan seni supaya terlihat menarik. Contoh alat transportasi tradisonal adalah becak, delman, perahu tradisional, dll. Ada juga alat transportasi modern yang menjadi ciri khas di salah satu daerah di Indonesia seperti bajaj di Jakarta.


3. Batik 

ardilycans7.blogspot.co.id
 
Batik adalah kain yang mengalami proses canting atau printing. Batik adalah ciri khas pakaian asli Indonesia yang telah diakui dunia. Teknik membatik sudah dikenal sejak lama. Banyak sekali terdapat sentra pengrajin batik di Nusantara. Salah satunya yang populer adalah Solo dan Pekalongan. Kain batik dijadikan pakaian untuk kegiatan formal dan bahkan kegiatan internasional. Selain itu, banyak sekolah yang menggunakan seragam batik di hari-hari tertentu.


4. Senjata Tradisional 

ardilycans7.blogspot.co.id
 
Di jaman dahulu, senjata tradisional digunakan untuk berburu, berperang melawan musuh, bekerja, dan dijadikan benda pusaka. Namun saat ini hanya digunakan sebagai benda pusaka dan alat untuk membantu melakukan pekerjaan. Senjata tradisional seringkali memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Contoh senjata tradisional Nusantara adalah Celurit dari Madura dan Mandau dari Kalimantan.


5. Anyaman 

ardilycans7.blogspot.co.id
 
Kerajinan anyaman masih sering digunakan hingga kini terutama bagi ibu-ibu yang sedang ke pasar. Anyaman juga dapat digunakan untuk membuat piring, mebel, tempat membawa ayam, furniture, dll. Kerajinan anyaman hampir dapat ditemukan di seluruh wilayah Nusantara.


6. Sepatu 

ardilycans7.blogspot.co.id
 
Cibaduyut di Bandung menjadi pusat pengrajin sepatu kulit. Bahkan banyak yang sudah diekspor ke luar negeri. Sepatu juga termasuk karya seni rupa terapan karena bernilai seni dan dapat digunakan sebagai alas kaki. Umumnya sepatu terbuat dari bahan kulit.


7. Gagang Pintu 

ardilycans7.blogspot.co.id
 
Gagang pintu seringkali memiliki nilai seni. Pada umumnya gagang pintu terbuat dari kuningan atau logam. 


8. Cobek 

ardilycans7.blogspot.co.id
 
Cobek adalah alat masak tradisional yang terbuat dari batu. Cobek biasa digunakan untuk menghaluskan rempah-rempah .Sampai saat ini cobek sering digunakan untuk membuat bumbu-bumbu tradisional atau jamu. 


9. Gerabah 

ardilycans7.blogspot.co.id
 
Gerabah adalah kerajinan tangan yang umumnya terbuat dari tanah liat yang dibakar. Di sekolah seringkali diajarkan membuat asbak atau seni terapan lainnya dari tanah liat. Sampai saat ini gerabah masih sering digunakan misalnya untuk menaruh puntung rokok dan sebagai peralatan makan.


10. Tenun 


ardilycans7.blogspot.co.id

Tenun adalah kain yang dibuat secara tradisional dengan cara menenun. Kain tenun adalah salah satu ciri khas Nusantara selain batik. Menenun biasanya membutuhkan waktu yang lama karena kerumitannya. Maka dari itu kain tenun memiliki harga yang mahal karena kerumitannya dan nilai seninya. 


 Di Poskan Oleh :ardilycans7.blogspot.co.id
 

Tuesday, 15 November 2016

Karya Seni Murni

KARYA SENI MURNI


       Hayy.... Kembali lagi dengan saya pada postingan kali ini saya akan memberikan pembelajaran sedikit tentang seni rupa...dan semoga pembelajaran kali ini dapat bermanfaat bagi kita semua .... oke yang pertama kita akan mempelajari tentang penciptaan  seni rupa murni nah langsung simak aja yah.

1. Penciptaan Seni Rupa Murni

Penciptaan seni rupa murni merupakan kegiatan berkarya seni lukis, seni patung, seni grafis, seni serat, dan lain-lain, untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman kehidupan menjadi perwujudan visual dilandasi kepekaan artistik. Kepekaan artistik mengandung arti, memerlukan kemampuan mengelola atau mengorganisir elemen-elemen visual untuk mewujudkan gagasan menjadi karya nyata.
a.    Aspek Konseptual
1)     Penemuan Sumber Inspirasi
Titik tolak penciptaan karya seni rupa murni adalah penemuan gagasan. Kita harus memiliki gagasan yang jelas dalam mengekspresikan pengalaman artistik. Sumbernya;

(1) berasal dari realitas internal, perambahan kehidupan spiritual (psikologis) kita sendiri. Misalnya harapan, cita-cita, emosi, nalar, intuisi, gairah, kepribadian dan pengalaman-pengalaman kejiwaan lain yang kadangkala belum teridentifikasi dengan bahasa. Dengan kata lain, gagasan seni timbul dari kebutuhan kita sebagai manusia untuk berekspresi. (2) berasal dari realitas eksternal, yaitu hubungan pribadi kita dengan Tuhan (tema religius), hubungan pribadi kita dengan sesama (tema sosial: keadilan, kemiskinan, nasionalisme), hubungan pribadi kita dengan alam (tema: lingkungan, keindahan alam) dan lain sebagainya.

2)     Penetapan Interes Seni
Dalam aktivitas penciptaan kita harus dapat menentukan interes seni kita sendiri, sehingga dapat berkreasi secara optimal. Pada dasarnya terdapat tiga interes seni: (1) interes pragmatis, menempatkan seni sebagai instrumen pencapaian tujuan tertentu. Misalnya tujuan nasional, moral, politik, dakwah, dan lain-lain. (2) interes reflektif, menempatkan seni sebagai pencerminan realitas aktual (fakta dan kenyataan kehidupan) dan realitas khayali (realitas yang kita bayangkan sebagai sesuatu yang ideal). dan (3) interes estetis, berupaya melepaskan seni darinilai-nilai pragmatis dan instrumentalis. Jadi interes estetis mengeksplorasi nilai-nilai estetik secara mandiri (seni untuk seni).
Dengan menetapkan interes seni, kita akan lebih memahami tujuan kita menciptakan karya.
3)      Penetapan Interes Bentuk

Untuk mengekspresikan penghayatan nilai-nilai internal atau eksternal dengan tuntas, kita perlu mempertimbangkan kecenderungan umum minat dan selera seni kita sendiri. Misalnya kita dapat mencermati karya-karya yang telah kita buat selama studi. Kecenderungan yang dapat kita pilih adalah (1) bentuk figuratif, yakni karya seni rupa yang menggambarkan figur yang kita kenal sebagai objek-objek alami, manusia, hewan, tumbuhan, gunung, laut dan lain-lain yang digambarkan dengan cara meniru rupa dan warna benda-benda tersebut. (2) bentuk semi figuratif, yakni karya seni rupa yang “setengah figuratif”, masih menggambarkan figur atau kenyataan alamiah, tetapi bentuk dan warnanya telah mengalami distorsi, deformasi, stilasi, oleh perupa. Jadi bentuk tidak meniru rupa sesungguhnya, tetapi dirubah untuk kepentingan pemaknaan, misalnya, bentuk tubuh manusia diperpanjang, atau patung dewa yang bertangan banyak, bentuk gunung atau arsitektur yang disederhanakan atau digayakan untuk mencapai efek estetis dan artistik. (3) bentuk nonfiguratif, adalah karya-karya seni rupa yang sama sekali tidak menggambarkanbentuk-bentuk alamiah, jadi tanpa figur atau tanpa objek (karenanya disebut pula seni rupa non objektif). Karya-karya seni rupa non figuratif, jadinya merupakan susunan unsur-unsur visual yang ditata sedemikian rupa untuk menghasilkan satu karya yang indah. Istilah lain menyebut karya seni rupa non figuratif adalah karya seni abstrak. Pada umumya karya abstrak yang berhasil adalah karya yang memiliki “bentuk bermakna”. Artinya sebuah karya seni yang memiliki kapasitas membangkitkan pengalaman estetis bagi orang yang mengamatinya. Dengan kata lain karya seni yang dapat membangkitkan perasaan yang menyenangkan, yaitu rasa keindahan.
4)     Penetapan Prinsip estetik
Pada umumnya karya seni rupa murni menganut prinsip estetika tertentu. Kita harus dapat mengidentifikasi cita rasa keindahan yang melekat pada karya-karya yang pernah kita ciptakan. Pada tahap ini, kita perlu menetapkan prinsip estetika yang paling sesuai untuk mengungkapkan pengalaman kita. Alternatif prinsip estetika yang dapat dipilih ialah: (1) pramodern, prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas merepresentasi bentuk-bentuk alam, atau aktivitas pelestarian kaidah estetik tradisional (2) modern, prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas kreatif, yang mengutamakan aspek penemuan, orisinalitas, dan gaya pribadi atau personality. (3) posmodern, prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas permaianan tanda yang hiperriil dan ironik, sifatnya eklektik (meminjam dan memadu gaya seni lama) dan menyajikannya sebagai pencerminan budaya konsumerisme masa kini.

b.    Aspek Visual
1.) Struktur Visual. Untuk mewujudkan aspek konseptual menjadi karya visual, perlu ditegaskan lebih spesifik dalam subject matter, masalah pokok atau tema seni yang akan diciptakan. Misalnya tema sosial: kemiskinan, dengan pilihan objek “pengemis”. Tema perjuangan: dengan pilihan objek “Pangeran Diponegoro”, tema religius: lukisan kaligrafi dengan objek “ayat tertentu”, dan lain sebagainya. Objek-objek tersebut dapat divisualisasikan dengan berbagai cara, pilihlah unsur-unsur rupa (garis, warna, tekstur, bidang, volume, ruang), sesuai dengan kebutuhan interes seni, interes bentuk dan prinsip estetika yang telah ditetapkan dalam aspek konseptual.
2.) Komposisi. Hasil seleksi unsur-unsur rupa dikelola, ditata, dengan prinsip-prinsip tertentu, baik terhadap setiap unsur secara tersendiri maupun dalam hubungannya dengan bentuk atau warna. Dengan memperhatikan empat prinsip pokok komposisi, yaitu: proporsi, keseimbangan, irama, dan kesatuan untuk memperlihatkan karakteristik keunikan pribadi kita .

3.)      Gaya pribadi
 Dalam penciptaan karya seni, karakteristik atau ciri khas seorang perupa merupakan faktor bawaan, yang menandai sifat unik karya yang diciptakannya. Misalnya Raden Saleh, Basoeki Abdullah dan S. Soedjojono, meskipun sama-sama melukis dengan gaya realisme, karyanya akan sangat berlainan karena unsur gaya pribadi. Karya Raden Saleh menghadirkan suasana dramatis aristokratis, karya Basoeki Abdullah memperlihatkan idealisasi keindahan yang permai, sedangkan karya S. Soedjojono menghadirkan suasana heroisme dan nasionalisme.

Dalam aktivitas pembelajaran seni rupa, gaya pribadi akan lebih mudah terlihat apabila kebebasan berkreasi diberikan, sehingga karya-karya siswa dengan sendi-rinya memperlihatkan keberagaman gaya seni sesuai kepribadiannya masing-masing.
2.    Aspek Operasional
Langkah-langkah kerja dalam keseluruhan proses perwujudan karya dimulai dari penetapan bahan, peralatan utama dan pendukung, serta teknik-teknik dalam memperlakukan bahan dengan peralatannya. Seluruh proses dikelompokkan ke dalam tiga tahap: (1) Tahap persiapan. pengadaan dan pengolahan bahan utama, bahan pendukung, dan pengadaan peralatan. (2) Tahap Pelaksanaan, berkenaan dengan pengalaman artistik, aktivitas proses kreasi dari awal hingga selesai. (3) Tahap akhir, karya seni rupa yang sudah diciptakan, masih membutuhkan tindakan-tindakan khusus supaya siap dipamerkan. Jenis karya seni rupa tertentu memerlukan pembersihan menyeluruh, lapisan pengawet (coating), atau lembaran kaca dan bingkai. Jenis lain membutuhkan kemasan. Semuanya harus digarap dengan baik, sampai sebuah karya seni rupa dikatakan siap pamer.


F. Pengertian Dasar Seni Lukis

Penciptaan karya seni lukis, menuntut pengetahuan dan spesialisasi bidang keahlian, karena itu diperlukan pengetahuan dasar seni lukis sebagai fondasi proses kreatif yang dilakukan.
1. Ruang lingkup seni lukis
Sebenarnya banyak pengertian seni lukis yang didefinisikan oleh para pakar seni, namun pada umumnya, tidak ada satupun definisi yang dapat memuaskan semua orang. Karena sesungguhnya seni lukis itu memiliki keberagaman dan memiliki banyak aliran, yang satu sama lain di samping mempunyai persamaan, juga tidak jarang saling bertentangan secara diametral. Dari sekian banyak definisi itu, di sini dipilih salah satu definisi sebagai bekal dasar yang cukup relevan memahami pengertian seni lukis.

Secara teknis lukisan adalah pembubuhan pigmen atau wama dengan bahan pelarut di atas permukaan bidang dasar, seperti pada kanvas, panel untuk menghasilkan sensasi atau ilusi ruang, gerakan, tekstur, untuk mengekspresikan berbagai makna atau nilai subjektif, baik yang sifatnya intelektual, emosi, simbolik, relegius, dan lain-lain.

Selanjutnya Herbert Read mengatakan Seni lukis adalah penggunaan garis, warna, tekstur, ruang dan bentuk, shape, pada suatu permukaan, yang bertujuan menciptakan berbagai image. Image-image tersebut bisa merupakan pengekspresian ide-ide, emosi, dan pengalaman-pengalaman, yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mencapai harmoni. Adapun pengalaman yang diekspresikan itu adalah pengalaman yang berisi keindahan atau pengalaman estetik.

Menurut Edmund Burke Feldman pengekspresian itu menggunakan (1) Unsur-unsur visual, yang terdiri dari garis, warna, bentuk, tekstur dan ruang atau gelap terang,

(2) Organisasi dari unsur -unsur tersebut, yang meliputi kesatuan, keseimbangan, irama dan perbandingan ukuran.

Dari sisi lain, kritikus seni rupa Dan Suwaryono mengemukakan bahwa seni lukis memiliki dua faktor. (1) Faktor Ideoplastis: ide, pendapat, pengalaman, emosi, fantasi, dan lain-lain. Faktor ini lebih bersifat rohaniah yang mendasari penciptaan seni lukis. (2) Faktor Fisioplastis: yang meliputi hal-hal yang menyangkut masalah teknis, termasuk organisasi elemen-elemen visual seperti garis, warna tekstur, ruang, bentuk (shape) dengan prinsip-prinsipnya. Dengan demikian faktor ini lebih bersifat fisik dalam arti seni lukisnya itu sendiri.

Seni lukis adalah wujud ekspresi yang harus dipandang secara utuh. Keutuhan wujud itu, terdiri dari ide dan organisasi elemen- elemen visual. Elemen -elemen visual tersebut disusun sedemikian rupa oleh seorang pelukis dalam bidang dua dimensional. Pengertian seni lukis sesungguhnya mencakup ruang lingkup yang lebih luas dari sebuah defenisi, karena seni lukis juga mengenal istilah lukisan dinding, lukisan
miniatur, lukisan pottery, lukisan manuskrip, lukisan jambangan, lukisan mosaik, lukisan potret, lukisan kaca. lukisan enamel, lukisan teknologis yang dibuat dengan menggunakan media elektronik, seperti komputer. Perhatikan lukisan Gambar 2.3, dikenal sebagai vector art, dikerjakan dengan komputer, hasilnya cukup realistis. Bandingkan dengan Gambar 2.4, Di Depan Kelambu Terbuka karya Soedjojono, dikerjakan secara manual dan menampilkan gaya pelukisan ekspresionisme.
   Seni lukis yang lebih populer di tengah masyarakat dan di ajarkan di lembaga pendidikan kesenian pada dasarnya adalah easel painting, jenis lukisan yang berukuran lebih kecil dari lukisan dinding atau mural. Sejenis seni lukis yang lebih fleksibel, karena para pelukis dapat membawa easel yang praktis itu keberbagai lokasi untuk melukis di alam bebas, di samping dapat pula digunakan berkarya di studio seni lukis. Berikut ini disajikan beberapa masalah yang berkaitan dengan pengetahuan seni lukis.

2.     Unsur Visual

 a. Garis

Titik tunggal dalam ukuran kecil memiliki tenaga yang cukup untuk merangsang mata kita dan dapat berperan sebagai ‘awalan’. Apabila titik digerakkan maka dimensi panjangnya akan tampak menonjol dan sosok yang ditimbulkannya disebut ‘garis’. Garis dapat berupa goresan yang kita buat di atas sebuah bidang, tetapi garis dapat pula mewakili bekas roda, tiang bambu, kawat, pancaran cahaya, ruang antara dua bangunan atau dinding, jalan yang melintasi kota, sungai, kontur tanah yang berkelok-kelok, kontur pegunungan, bangunan, batas dinding dengan lantai, dan seterusnya.
Garis dapat memberikan kesan gerak, ide, atau simbol. Pada karya seni lukis garis dapat mengekspresikan suasana emosi tertentu, seperti perasaan bahagia, sedih, marah, teratur, kacau, bingung, dan lain sebagainya. Secara fisik garis dapat dibuat tebal, tipis, kasar, halus, lurus, lengkung, berombak, memanjang, pendek, putus-putus, patah-patah dan banyak lagi. Unsur garis juga dapat membangun asosiasi kita kepada kesan tertentu, misalnya garis horisontal kesannya tenang, tidak bergerak, diam, dan lebar. Sementara garis vertikal kesannya agung, stabil, tinggi, sedangkan garis diagonal kesannya, jatuh, bergerak.

Garis adalah salah satu elemen yang penting dalam seni lukis. Pedoman seni yang penting dan ampuh sebagaimana juga yang terdapat dalam hidup, adalah makin nyata, tajam dan kuat garisnya, makin sempurna hasil seninya. Garis dapat diciptakan melalui (1) kontur, garis paling luar dari benda yang dilukis, (2) Batas pemisah antara dua warna atau cahaya terang dan gelap, (3) lekukan pada bidang melingkar atau memanjang lurus, (4) batas antara dua tekstur yang berlainan.

Dalam Kebudayaan Timur, para pelukis sangat terpesona oleh kekuatan garis, baik di Cina, Jepang, India, maupun Indonesia. Untuk memahami kekuatan garis dalam seni lukis, pekritik seni rupa Sudarmaji mengatakan: “Lukisan Cina klasik yang bersifat grafis memberikan kesan puitis, lembut, penuh irama yang terkendali, serta menimbulkan efek perasaan tenteram. Sebaliknya pelukis Vincent van Gogh yang menggunakan garis pendek, patah-patah menimbulkan efek yang keras tegar. Ada kesan ledakan dan pemberontakan. Jika garis begitu ditunjang juga oleh warna keras menyala, sempurnalah kesan kekerasan dan pemberontakan itu. Di dunia Barat, Henry Matisse, Pablo Picasso, Paul Klee, Roul Dufi sebagian dari tokoh yang kuat dalam garis. Jika garis digoreskan dengan jujur mengikut kata batin, akan ditemukan identifikasi seseorang. la menjadi personal. Dengan garis dapat lahir bentuk, tapi juga bisa mengesankan tekstur, nada dan nuansa, ruang dan volume yang kesemuanya melahirkan suatu perwatakan.”

Dari penjelasan di atas kiranya dapat dimengerti, bahwa unsur garis dalam seni lukis dapat dipergunakan sesuai dengan kebutuhan. Teknik penguasaan dan pengendalian garis dalam seni lukis memang memerlukan latihan yang intensif, tanpa latihan yang kontinu maka bakat tidak akan berkembang optimal.

b. Warna

Secara fisika warna ditimbulkan oleh sinar matahari, bila kita sorotkan sinar matahari ke sebuah kaca prisma maka sinar tersebut akan terurai menjadi beberapa sinar warna, yang disebut spektrum warna. Setiap spektrum mempunyai kekuatan gelombang yang kemudian sampai pada mata kita, sehingga kita dapat melihat wama tertentu.
Pada alam terdapat dua jenis penerima cahaya, yakni sebagai pemantul dan sebagai penyerab cahaya. Secara fisiologi stimulasi cahaya memantulkan warna suatu objek sehingga merangsang mekanisme mata kita, kemudian rangsangan tersebut disalurkan melalui syaraf optik ke otak, sehingga kita dapat mengenali warna itu. Secara psikologis telah terbukti bahwa warna dapat mempengaruhi kegiatan fisik maupun mental kita. Reaksi kita terhadap wama bersifat instingtif dan perseorangan, karenanya sensitivitas setiap orang juga berbeda kepada warna-warna. Pada berbagai aliran seni lukis dalam sejarah seni rupa telah dikenal manifenstasi tatawarna tertentu, seperti skema warna klasik, skema warna Rembrandt, dan lain sebagainya.

Peran warna dalam kegiatan seni lukis sangat esensial, baik pada masa pra modern, masa modem, maupun masa posmodern. Pada umumnya para pelukis memanfaatkan warna untuk menyatakan gerak, jarak, tegangan, deskripsi rupa alam, naturalis, ruang, bentuk, ekspresi atau makna simbolik. Untuk memahami lebih komprehensif peran warna dalam seni lukis, berikut ini akan disajikan sifat optis warna, notasi warna, warna objek, pigmen, yang kesemuanya sangat menentukan kualitas penciptaan sebuah lukisan.

c. Sifat Warna

Dalam teori warna dikenal ada tiga sifat optis, optical property, yaitu: hue, value, dan saturation. Hue adalah tingkat kepekatan wama, misalnya merah, merah oranye, atau hijau, biru, biru keunguan dan seterusnya. Yang dimaksud dengan value adalah fenomena kece-merlangan dan kesuraman wama. Nilai rendah adalah warna yang cenderung suram atau kegelapan, sementara nilai tinggi adalah kecenderungan warna yang terang dan cemerlang. Misalnya gejala demikian dapat kita lihat pada skala derajat warna abu-abu dari hitam ke putih. Sedangkan saturation adalah intensitas nada warna untuk menunjukkan wama-wama menyala, dan warna-warna yang suram. Semakin murni penggunaan warna semakin tinggi intensitasnya, sebaliknya semakin tidak murni penggunaan warna semakin rendah intensitasnya. Pada tahun 1940-an seni lukis Affandi dominan menggunakan warna-wama suram atau kusam, kemudian lukisannya berkembang kepenggunaan warna-wama yang cerah. Lihat Gambar 2.2 (halaman 11), Karya Affandi Potret Diri dan Matahari, 1977, yang menggunakan warna-warna merah, oranye, kuning dengan warna latar belakang yang terang abu-abu keputihan.

d. Notasi Warna

Notasi warna, color notation, adalah sistem klasifikasi atau identifikasi warna menurut sifat-sifat optisnya. Dalam konteks ini dikenal Sistem Munsell, Sistem Ostwald, Sistem Plochere, dan Sistem Maxwell. Tatanan warna dalam the hues of the spectrum terdapat pada warna pelangi di alam. Sedangkan dalam lingkaran warna, color circle, dapat dilihat warna primer, merah, biru, dan kuning. Warna skunder, adalah hijau, ungu, oranye, ketiganya merupakan hasil pencampuran warna primer. Warna komplementer letaknya bertolak belakang pada lingkaran warna, misalnya merah dengan hijau, biru dengan oranye, dan kuning dengan ungu. Terang dan gelap diungkapkan dengan warna putih dan hitam. Sedangkan wama netral adalah warna abu-abu. Bila hue adalah nama suatu warna, value kecerahan dan kecemerlangan wama, maka chroma adalah sifat kualitas, intensitas, dan kejernihan warna.
e. Warna-Warna Antara
Setelah warna primer, warna skunder, dan warna komplementer, dikenal pula warna-warna antara, intermediate color, seperti merah oranye, merah ungu, biru ungu, hijau biru, kuning hijau, dan oranye kuning. Sebenarnya dalam teori warna, jumlah warna ada delapan puluh warna.

f.  Warna Hangat dan Warna Sejuk

Dari lingkaran wama dapat pula ditentukan warna hangat-panas dan warna sejuk-dingin, the warm color, the cool color. Warna yang memberi efek kehangatan adalah merah, oranye dan kuning, sementara wama hijau dan biru memberikan efek yang menyejukkan.
Pengertian ini kita terjemahkan dari penglaman keseharian, pada saat kita mendekati wama api yang merah, kita tentu merasa kehangatan, atau, malah jika terlalu dekat bisa kepanasan. Sementara bila kita berada di daerah pegunungan yang hijau atau gunung yang kebiruan kita merasakan iklim yang sejuk. Asosiasi kita mengenai pengalaman real seperti itu menyebabkan kita mengartikan sifat warna menjadi hangat-panas bagi warna merah, oranye dan kuning, sementara warna hijau dan biru memberikan efek menyejukkan atau dingin.

g. Warna Kromatik dan Akromatik

  Warna kromatik, chromatic color, terdiri dan warna hitam, putih, dan abu-abu, selebihnya termasuk warna akromatik, achromatic color, seperti merah, biru, kuning, hijau, oranye dan seterusnya. Dalam seni lukis penggunaan warna tunggal sering diartikan sebagai warna kromatik, sementara penggunaan warna yang meriah, menggunakan banyak warna, disebut polychromatic. 
h. Warna Objek dan Warna Pigmen
Warna objek adalah warna yang terkena sinar warna spektrum, yang mengenai mekanisme mata pengamat adalah warna spektrum dengan panjang gelombang tertentu yang dipantulkan oleh objek pengamatan. Jika objeknya biru, maka warna spektrum biru panjang gelombang birulah yang dicerap mata pengamat. Ini berarti pantulan warna tersebut adalah

pantulan warna biru, sedangkan sisanya diserap oleh permukaan objek tersebut.

Warna pigment atau coloring material yang berupa bubuk halus yang disatukan dengan zat pengikat, atau paint vehicle merupakan warna cat yang dikenal luas, seperti cat air, cat poster, cat gouache, cat tempera, cat minyak, cat akrilik, dan lain sebagainya.

3. Ruang

Ruang, space, extens or area of ground, surface etc. Artinya, ruang adalah keluasan dari suatu bidang atau permukaan. Dalam Design Elementer disebutkan ruang bisa dikatakan bentuk dua atau tiga dimensional, bidang atau keluasan. Keluasan positif atau negatif yang dibatasi oleh limit.

Berbeda dengan pengertian garis, ruang mempunyai dua dimensi tambahan yaitu lebar dan dalam. Ruang mempunyai gerakan arah dan ciri umum seperti halnya: diagonal, horisontal, bergelombang, lurus, melengkung dan lain-lainnya. Untuk memperjelas ini, maka batasan utama adalah yang paling sesuai, yaitu ruang adalah keleluasaan dari satu bidang atau permukaan yang mempunyai bentuk dua dimensional.

4. Tekstur

Pada umumnya para pelukis memanfaatkan tekstur, texture is quality of surface: smooth, rough, slick, grainy, soft, or hard.

Kualitas taktil dari suatu permukaan, nilai kesan raba atau berkaitan dengan indra peraba. Suatu struktur penggambaran permukaan objek, seperti. buah-buahan, kulit, rambut, batu, kain, barang elektronik, dan lain sebagainya. Tekstur bisa kasar, halus, keras, lunak, berbutir, bisa juga kasar atau licin, teratur, atau tidak beraturan, sesuai dengan kualitas yang ingin diekspresikan.

Tekstur dibuat di atas kanvas, bisa dengan cat yang dicampur dengan bahan-bahan lain, seperti modeling paste, pasir, bubuk marmar, dan lain lain. Pada umumnya tekstur digunakan tidak semata-mata dari segi teknis, tetapi mengacu kepada substansi lukisan, atau ekspresi lukisan. Jika nilai ekspresi merupakan unsur pokok lukisan, maka pemanfaatan tekstur merupakan pendukung pengejawantahan nilai ekspresi itu sendiri. Para pelukis memanfaatkan unsur tekstur untuk variasi, fokus atau kesatuan. Kesemuanya itu dapat terjadi dengan kesengajaan pelukisnya, maupun karena sifat dari media yang dipakai ketika melukis. Dalam kaitannya dengan para pelukis formalis, maka fungsi teksur dapat berubah sebagai unsur yang berdiri sendiri, artinya tidak ada kaitannya dengan tujuan eksternal tertentu, bagi mereka penggarapan tekstur semata-mata untuk mencapai efek estetis dalam kesatuan lukisan. Lihat pada lukisan Ahmad Sadali (gambar 2.7), yang menggunakan tekstur nyata dengan latar pewarnaan yang kelam, kemudian diberi aksentuasi warna-warna emas. Sedangkan pada gambar 2.8, Fajar Sidik menyajikan latar warna cerah merah dengan menyajikan bentuk-bentuk lingkaran, segi tiga, trapesium dan lain-lain. Bentuk-bentuk itu diisi dengan warna merah, hijau tua, biru laut, hijau muda, merah jambu, oranye dan kuning gading.
Fajar Sidik berusaha menggabungkan peralihan bentuk dengan warna komplementer merah-hijau dalam intensitas warna yang berlainan. Efek pengisian warna pada motif berwarna gelap menghasilkan garis yang tegas di sekeliling motif tadi. Hal ini menimbulkan efek ritmis yang dinamis nyaris di seluruh bidang kanvas. Bentuk dan warna bulan sabit tampil sebagai keunikan lukisan (singular sign).
Jika seseorang mengamati permukaan lukisan dan mendapat kesan kasar, kemudian meraba lukisan tersebut benar-benar juga kasar. Atau sebaliknya kesan pengamatan memberi kesan halus, ketika diraba juga halus, maka jenis tekstur seperti itu disebut tekstur nyata, actual texture, karena antara hasil pengamatan dengan kenyataan memiliki kualitas yang sama. Jika seseorang mendapat kesan kasar pada pengamatan permukaan objek lukisan, sementara hasil perabaannya sesungguhnya halus, atau kesan pengamatan halus dan kesan raba kasar, maka jenis tekstur seperti ini disebut tekstur semu, simulated texture or synthetic texture,

Karena antara hasil pengamatan dengan kenyataan sesungguhnya tidak sama melainkan berbeda alias tidak nyata. Biasanya tekstur seperti ini dihasilkan dari efek permainan warna, pola, nada, dan garis.

mengekspresikan sesuatu, pada kasus van Gogh terlihat kaitan antara tekstur dengan emosi pelukisnya.

5. Bentuk

Semua karya seni rupa mempunyai bentuk, apakah realistik atau abstrak, representasional atau non representasional, dirancang dengan cermat dan hati-hati atau dihasilkan dengan spontan. Seni lukis, apapun jenis dan alirannya semuanya merupakan pengorganisasian elemen rupa menjadi bentuk seni.

Dalam teori seni pemakaian istilah bentuk merupakan terjemahan dari shape, sedangkan istilah wujud merupakan terjemahan dari form. Bentuk biasanya diartikan sebagai aspek visual, bagian-bagian yang tergabung menjadi satu yang disebut rupa atau wujud. Dalam konteks seni rupa, wujud mengandung pengertian yang khas, yaitu yang memberikan

tatanan khusus sehingga mampu mempengaruhi persepsi pengamat. Artinya wujud atau perupaan yang mampu merangsang pengalaman psikologis tertentu bagi pengamat. Dalam praktiknya istilah ini sering dipertukarkan pemakaiannya. Di Indonesia pada umumnya hanya dipergunakan istilah bentuk untuk mengartikan rupa atau wujud karya seni.
Bentuk dalam pengertian seni lukis memiliki banyak segi, ada bentuk figuratif, bentuk semi figuratif dan bentuk non figuratif. Bentuk figuratif bisa menghasilkan bentuk imitatif yakni berupaya meniru segala bentuk perwujudan benda-benda alam (keindahan pegunungan, pantai, daerah pertanian, fauna, flora, potret, dalamsetting alamiahnya) atau bentuk ciptaan manusia
(seperti pabrik, kota, pelabuhan, cafĂ©, dan lain-lain) objek ini di lukis persis seperti keadaan aslinya). Karya-karya yang dihasilkan dengan sendirinya cenderung menjadi naturalisme.
atau realisme. Atau jika kehadirannya dipicu oleh kehidupan bawah sadar pencipatanya, maka bisa pula menghasilkan karya-karya surealisme seperti pada karya-karya Salvador Dali, Sudibio, atau Ivan Sagito.
Bentuk semi figuratif antara lain bentuk distorsif, bentuk yang telah dirubah dari bentuk asal menjadi bentuk yang lebih estetis sesuai dengan cita rasa penciptanya. Dengan gaya perseorangan yang khas bisa dihasilkan dengan teknik pemanjangan, pemendekan, peninggian, pemiringan, dan perubahan-perubahan lain dari objek yang dilukis, semuanya ditujukan untuk maksud-maksud tertentu sebagai pengungkapan pengalaman seni perseorangan. Juga dikenal bentuk geometris, teknik pelukisan yang menghadirkan bentuk-bentuk yang tertib, teratur, dengan pengulangan objek atau motif tertentu sesuai dengan kebutuhan. Bentuk dalam konteks ini bisa dihasilkan dari analisis bentuk alam menjadi bentuk dasar dengan kebebasan yang bervariasi, seperti lukisan kubisme, optical art dan sejenisnya. Karya yang dihasilkan bisa semi figuratif, dan bisa pula menjadi abstrak geometris, apabila bentuk lukisan tidak lagi menggambarkan bentuk-bentuk yang bisa diamati dalam kehidupan keseharian. Jika pelukisan menjadi bidang warna yang datar dalam karya maka bentuk-bentuk yang dihasilkan menjadi neo plastisisme, seperti karya Piet Mondrian, atau color field painting, seperti karya Ellswort Kelly. Sebaliknya jika pelukisannya disertai unsur emosi maka akan menjadi abstrak ekspresionisme seperti karya Jackson Pollock. Atau jika bentuk itu tidak berupaya mencapai efek tiga dimensional disebut bentuk dekoratif, seperti lukisan-lukisan tradisional Bali, atau karya-karya Kartono Yudhokusumo, Mulyadi W. Batara Lubis dan lain-lain.

G. Penciptaan Desain

Desain sebagai kata kerja berarti proses penciptaan objek baru, sedangkan sebagai kata benda desain berarti hasil akhir sebuah proses kreatif baik dalam wujud rencana, proposal, atau karya desain sebagai objek nyata.
Sebagai aktivitas reka letak atau perancangan, desain dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan benda-benda fugsional yang estetis. Proses kreasi desain mencakup (1) studi pendahuluan (2) Profil Pasar dan Segmen Konsumen. (3) Alternatif Desain, (4) Uji coba, dan (5) Standar prosedur Produksi.
Penciptaan desain bisa atas dasar pesanan pihak tertentu, dan bisa pula berupa ciptaan pedesain yang ditawarkan kepada masyarakat yang menjadi segmen pasar. Pada tahap studi pendahuluan pedesain
mengkaji trend produk sejenis, aspek bahan baku, teknik dan proses kreasi, susunan rupa, gaya, fungsi, harga, dari jenis desain yang akan diciptakan.
Penciptaan alternatif desain pada umumnya mempertimbangkan faktor kebutuhan fungsional, faktor estetis, faktor lingkungan, dan faktor kenyamanan dan keamanan masyarakat pengguna desain, baik dalam arti fisik maupun mental. Sedangkan uji coba merupakan upaya mendeteksi sejauh mana alternatif desain awal telah memenuhi kriteria standar desain. Kesimpulan dari hasil analisis dan evaluasi yang dilakukan dipergunakan untuk memperbaiki desain awal, sehingga diperoleh karya desain yang representatif dan memuaskan.

H. Prinsip Desain

Dalam proses kreasi seorang pedesain biasanya memerlukan pengetahuan dasar tentang keselarasan, kesebandingan, irama, keseimbangan dan penekanan.

1. Keselarasan (harmony)

      Dalam suatu desain adalah keteraturan tatanan di antara bagian-bagian desain, yaitu susunan yang seimbang, menjadi satu kesatuan yang padu dan utuh, masing-masing saling mengisi sehingga mencapai kualitas yang disebut harmoni. Faktor keselarasan merupakan hal utama dan penting dalam penciptaan sebuah karya desain.

2. Kesebandingan (proportion)

Merupakan perbandingan antar satu bagian dengan bagian lain, atau antara bagian-bagian dengan unsur keseluruhan secara visual memberikan efek menyenangkan, artinya tidak timpang atau janggal baik dari segi bentuk maupun warna.

3. Irama (rythme)

Dalam pengertian visual dapat dirasakan karena ada faktor pengulangan di atas bidang atau dalam ruang, yang menyebabkan timbulnya efek optik seperti gerakan, getaran, atau perpindahan dari unsur yang satu ke unsur yang lain. Faktor irama ini kerap kali memandu mata kita mengikuti arah gerakan dalam karya desain.

4. Keseimbangan (balance)

Dalam penciptaan desain adalah upaya penciptaan karya yang memiliki daya tarik visual. Kesimbangan pada unsur dan bagian desain, maupun pada keindahan dan fungsi desain. Keseimbangan dapat memberikan efek formal (simetri), informal (asimetri), atau efek statik (piramid) dan dinamik (bola) efek memusat, memencar, dan lain sebagainya. Jadi faktor keseimbangan bertalian dengan penempatan unsur visual, keterpaduan unsur, ukuran, atau kehadiran unsur pada keluasan bidang-ruang terjaga bila struktur rupa serasi dan sepadan, dengan kata lain bobot tatanan rupa memberi kesan mantap dan kukuh.

5. Penekanan (emphasis)

Dalam merealisasi gagasan desain, adalah penentuan faktor utama yang ditonjolkan karena kepentingannya, ada faktor pendukung gagasan yang penyajiannya tidak perlu mengundang perhatian, meski kehadirannya dalam keseluruhan desain tetap penting. Prinsip penekanan dapat dilakukan dengan distorsi ukuran, bentuk, irama, arah, warna kontras, dan lain-lain.


Nah Gitulah pembelajaran pada hari ini dan semoga bermanfaat bagi kita semua yah... Dan jangan lupa ninggalin jejak komentar di bawah yah dan tunggu juga yah postingan selanjutnya.... Sekian...



Di Poskan Oleh : ardilycans.blogspot.com





Thursday, 20 October 2016

Asal-Usul Iblis Dan Kerajaannya

Kesombongan Iblis ternyata dan ternyata tidak membuat dirinya dilaknat oleh Allah SWT, namun ia juga terusir dari Surga. Dan setelah diusir, akhirnya Iblis pun mulai membangun istananya di lautan. Iblis memilih lautan karena luasnya mencapai tiga perempat dari luas bumi.KisahnyaDalam sebuah Kitab, Karya Agung Sang Syeikh Imam Al-Ghazali disebutkan bahwasanya iblis itu dulunya memiliki nama Al-Abid yang artinya ahli ibadah. Pemberian nama Al-Abid ini hanya pada langit pertama, lain hal dengan langit kedua dan seterusnya. Begitu terkenalnya Iblis dengan pemberian, sebutan nama-nama tiap langit karena iblis ketika itu memang hamba Allah SWT yang taat.Pada langit kedua, iblis disebut dengan Az-Zahid dan di langit ketiga diberi nama Al-Arif.Di langit keempat namanya adalah Al Wali, Pada langit ke lima namanya adalah At-Taqi. Sedangkan nama di langit keenam dan ketujuh adalah Al-Kazin dan Azazil.Awalnya, iblis termasuk dari salah satu malaikat penghuni surga yang doanya terkenal makbul. Karena doanya yang ampuh tersebut, malaikat-malaikat lain meminta kepada iblis untuk didoakan agar para malaikat tidak tertimpa laknat Allah SWT.Peristiwa itu terjadi manakala Malaikat Isarfil yangsedang berkeliling mengitari surga mendapati sebuahtulisan.Tulisan tersebut berbunyi,"Seorang hamba Allah SWT yang telah lama mengabdi akan mendapat laknat Allah SWT dengansebab menolak perintah Allah."Tulisan itu berada di salah satu pintu surga, dan tak pelak lagi tulisan itu telah membuat Malaikat Israfil menangis tersedu. Ia takut sekali, hamba Allah SWT yang dimaksud adalah dirinya.Tak hanya Malaikat Israfil, para malaikat lain jugaturut menangis, dimana malaikat-malaikat lain itu juga memiliki kekuatan sama seperti Malaikat Israfil.Akhirnya mereka sepakata, untuk mendatangi Iblis(Azazil) dan meminta didoakan agar tidak tertimpa laknat dari Allah SWT.Pada waktu itu, ketika mendengar penjelasan Israfil, Azazil berkata,"Ya Allah...! Hamba-Mu yang manakah yang berani menentang perintahMu itu, sungguh aku ikutmengutuknya."Azazil lalu memanjatkan doa,"Ya Allah, janganlah Engkau murka atas mereka."Azazil Mengingkari Perintah Allah SWTSelama kurun waktu 120 ribu tahun, Azazil (Iblis), menyandang gelar kehormatan dan kemuliaan, dan hingga tibalah Nabi Adam as diciptakan. Allah SWT menyuruh semua malaikat sujud kepada Adam yang diciptakan sebagai khalifah (pemimpin) di bumi.Semua malikat segera patuh dan melaksanakan perintah Allah SWT tersebut. Namun Azazil (Iblis) malah membangkang. Di menolak melaksanakan perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Adam karena kesombongannya. Sejak saat itulah Iblis dijadikan simbol dari kesombongan, tentang takabur, tentang selalu berbangga diri. Sifat-sifat inilah yang kemudian ditularkan oleh Iblis agar tersesat dari jalan Allah SWT.Iblis berkata,"Ya Allah, aku (memang) lebih baik dibandingkan Adam. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah."Karena penolakan itu, Allah SWT berfirman agar iblis keluar dari Surga-Nya.Iblis Mendirikan Istana di LautanNah, sejak Iblis terlempar dari Surga, Iblis membangun singgasana dan istana di lautan. Hal itu dimaksudkan untuk menandingi Arsy Allah SWT yang berada di atas air di langit ke tujuh.Dalam sebuah riwayat Imam Ahmad ra, Rasulullah SAW bersabda,"Apa yang kamu lihat?""Saya melihat singgasana di atas lautan yang dikelilingi oleh beberapa ular," jawab Ibnu Sayyad."Dia telah melihat singgasana iblis," sabda Rasulullah SAW.(H.R. Ahmad).Sedangkan menurut Ibnu Katsir dalam bukunya yang berjudul "Al-Bidayah Wanniyah" menjelaskan bahwa Iblis mempunyai banyak tentaradan memilih lautan sebagai istana. Seperti diketahui bahwa luas lautan mencapai tiga perempatdari bumi. Oleh karena itulah ia menempatkan kerajaannya di lautan agar ia lebih leluasa memerintah bala tentaranya yang jumlahnya sangat banyak sehingga memerlukan pusat kerajaan yang luas. Sedangkan lautan adalah daerah yang sangat luas.Lalu dimakakah tepatnya istana Iblis berada?Siapakah bala tentara Iblis sebenarnya itu?

Www.ardilycans7@gmail.com

Wednesday, 28 September 2016

SEJARAH PERKEMBANGAN SENI RUPA

SEJARAH PERKEMBANGAN SENI RUPA

PENDAHULUAN

Kata Art (Bahasa Inggris) sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai seni. Seni rupa adalah salah satu cabang seni yang diciptakan manusia dengan menggunakan rupa sebagai medium penggungkapan gagasan seni. Yang termasuk ke dalam seni rupa adalah garis, bidang, bentuk, huruf, angka, warn, bahkan cahaya. Karena perbedaan rupa yang dijadikan medium inilah kemudian dikenal cabang-cabang seni rupa seperti seni lukis, seni patung, seni grafis, seni desain, dan sebagainya.


Sebagai karya seni, seni rupa dapat dikelompokkan dalam berbagai kepentingan. Berdasarkan bentuknya dineal adanya karya seni rupa dua dimensi (dwimatra) dan karya seni rupa tiga dimensi (trimatra). Karya seni rupa dua dimensi adalah karya seni rupa yang diterakan pada bidang datar seperti gambar, lukisan, dan sejenisnya. Sedangkan karya seni rupa tiga dimensi dalah karya seni rupa yang menggunakan bentu-bentuk yang memiliki tiga ukuran (panjang, lebar, tinggi) sebagai mediumnya, seperti patung, karya kriya, dan sejenisnya.

Selain penggolongan berdasarkan bentuknya, karya seni rupa juga dapat dikelompokkan berdasarkan fungsi kegunaannya dalam konteks kehidupan manusia. Berdasarkan kegunaannya dikenal adanya seni rupa murini (pure art/fine art) dan seni rupa pakai (applied art) yang sering disebut dengan seni kriya.

Seni rupa murni atau seni murni adalah karya seni yang dimaksudkan untuk penikmatan semata dan tidak memiliki kegunaan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Karya seni murni dapat kita temukan dalam bentuk lukisan, patung, dan sejenisnya. Sedangkan seni rupa pakai atau seni pakai adalah karya seni rupa yang selain sebagai karya seni rupa juga memiliki fungsi atau kegunaan praktis dalam kehidupan s ehari-hari. Oleh karena itu, seni rupa pakai biasa dikenal sebagai seni kriya (craft).
 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kriya berarti kerajinan tangan. Jadi dalam pengertian terbatas seni kriya dapat diartikan sebagai kerajinan tangan.



SEJARAH SENI RUPA


Perkembangan seni rupa dapat dirunut sejak zaman purbakala hingga era modern. Secara garis besar, sejarah seni rupa terbagi dalam beberapa periode sebagai berikut:

·                     Seni Rupa Zaman Prasejarah

Seni rupa dapat dikatakan sebagai bagian budaya yang tua. Dalam batas-batas tertentu, seni rupa telah ada sejak manusia mengenal peradaban. Karya-karya yang dimaksud ditemukan dalam bentuk gerabah yang diberi ornament hias tertentu, patung-patung leluhur masyarakat prasejarah, serta catatan-catatan (dalam bentuk gambar) yang digoreskan pada dinding-dinding goa.



Pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20, ditemukan pada beberapa tempat hasil seni yang dianggap orang paling tua hingga saat ini. Penemuan tersebut merupakan lukisan-lukisan pada dinding gua-gua yang terdapat di Perancis Selatan dan Spanyol Utara seperti di Combaralles, Font de Gaume, Altamira, dan Alpera.

Lukisan-lukisan yang dibuat pada dinding-dinding dan langit-langit gua tersebut dibuat dengan digurat atau dicukil dengan batu tajam. Cukilan ini diberi warna memakai batu dangklik) dicampur dengan lemak binatang sebagai perekatnya. Kebanyakan terdapat gambar-gambar binatang bison atau sapi hutan. Ada juga beruang, rusa kutub, kuda liar, dan babi hutan.


·                     Peradaban Bangsa-bangsa Kuno

Bangsa-bangsa timur yang mendiami daerah Timur Tengah dan Asia Kecil serta daerah Mesir dikenal sebagai bangsa-bangsa yang memiliki peradaban tinggi. Di mesir kita dapat menyaksikan sisa-sisa peradaban tinggi dalam bentuk karya seni arsitektur, patung, serta lukisan dinding yang bernilai tinggi seperti piramida, spinx serta relief-relief dan lukisan pada dinding bagian dalamnya.

Selain bangsa Mesir, bangsa Babilonia, Asiria, dan Persia merupakan bangsa-bangsa yang memiliki kebudayaan yang tinggi. 



Bangsa Yunani dan Romawi sering dijadikan titik awal perkembangan seni rupa di dunia. Lukisan-lukisan karya pelukis Yunani kuno menampilkan bentuk-bentuk geometris yang diterakan pada permukaan keramik, jambangan, serta benda-benda kerajinan tangan lainnya. Sementara itu, bangsa Romawi karyanya dapat kita saksikan di dalam rumah-rumah bangsawan di kota Pompei.


·                     Seni Rupa Zaman Abad Pertengahan

Periode ini berlangsung mulai tahun 476 Masehi yakni pada awal perkembngan agama Nasrani di Romawi, dan berakhir pada tahun 1492, yakni pada saat ditemukannya benua Amerika. Karya-karya seni rupa abad pertengahan banyak dipengaruhi oleh corak budaya Yuani Purba dan Romawi yang menganut kepercayaan politheisme (menyembah banyak dewa) dan dicampur dengan ajaran-ajaran Nasrani. Pada zaman ini gereja memiliki pengaruh yang sangat besar.



·                     Seni Rupa Zaman Renaissance


Zaman renaissance merupakan zaman perubahan besar-besaran dalam berbagai bidang keilmuan dan seni budaya. Kemapanan gereja mulai terusik oleh berbagai pertentangan serta penemuan dalam bidang-bidang keilmuan.  Penemuan-penemuan baru dalam bidang geografi, fisika, astronomi telah dianggap sebagai hal yang menentang keberaddan da kemapanan agama. Galileo (1564-1642), seorang ahli fisika, ahli astronomi dan juga filsuf, ditangkap dan dipenjara dengan tanpa ditentukan batas waktunya karena penemuannya bertentangan dengan hokum-hukum yang dipercayai gereja.


Tokoh-tokoh seni rupa yang terkenal pada periode ini adalah Leonardo da Vinci, Michelangelo, dan Rafael Santi. Karya-karya penting pada masa ini terdapat pada bentuk-bentuk bangunan gereja, lukisan-lukisan dinding, relief pada pintu-pintu rumah dan bangunan gereja, serta patung-patung perunggu yang menghiasi hampir seluruh gereja di Italia serta seluruh Eropa Barat dan Eropa Timur.


·                     Seni Rupa Zaman Barok dan Rokoko

Kata Barok (baroque) berasal dari bahasa Romawi yang berarti “tidak beraturan” atau “menyimpang”. Michelangelo dan Palladio dianggap sebagai pelopor dari gerakan ini. Zaman Barok terlahir pada pertengahan abad ke-16 sebagai awal mula pengaruh seni Italia ke seluruh daratan Eropa.

Jika misi renaissance adalah melepaskan diri dari cara berpikir zaman pertengahan dan dipenuhi pola pikir gereja, maka barok melepaskan diri dari keterikatan tema-tema serta nuasnsa-nuansa yang terkandung pada masa renaissance. Lukisan-lukisan pada zaman barok terkesan berlebihan dari keadaan sebenarnya. Peter Paul Rubens (1577-1640), seorang seniman Belanda, melukiskan tubuh-tubuh orang penuh dengan otot-otot serta tokoh-tokoh perkasa.



Rococo diambil dari kata “rocaile” yang berarti seni kulit kerang, sejenis kesenian yang sangat digemari pada saat itu di Italia. Pada zaman inilah bentuk-bentuk penyelewengan kaidah seni tampil meluas. Lukisan-lukisan dibuat menjadi lebih indah dari aslinya, lebih hebat, dan menyimpang dari sebenarnya. Karya seni menjadi barang pesanan kaum bangsawan dan saudagar yang memiliki banyak uang. Pada zaman ini kkary seni diperjualbelikan secara salah dan menjadi komoditas yang tidak berharga.


·                     Seni Rupa Abad ke-19

Penggalian kembali corak-corak lama, seperti yang terdapat pada gaya-gaya Yunani Purba dan Romawi telah melahirkan aliran-aliran baru yang dikenal dengan alisan klasik dan neo klasisme dalam seni lukis dan seni patung.

Beberapa catatan penting yang dapat disajikan dalam perkembangan seni rupa pada abad ke-19 ini adalah sebagai berikut:

1.             Munculnya berbagai aliran seni rupa seperti romaantisme, impresionisme, realism, simbolisme, munumentalisme, dll. 
2.            Terlepasnya pengaruh agama, terutama gereja, dari corak, gaya serta nafas kesenian secara umum. 
3.            Para pelukis semakin berani melakukan percobaan dengan berbagai penggunaan warna cerah sebagai pencurahan emosi dan pemikiran. 
4.            Seniman bukan lagi dari kalangan bangsawan atau memiliki status social tinggi, melainkan juga banyak yang berasal dari kalangan bawah.

Beberapa tokoh seniman yang terlahir pada abad ke-19 dan mewakili aliran-aliran yang dianutnya adalah sebagai berikut:

Klasisisme : arsitek Bartholome Vignon (1762-1846), pelukis Jacques Louis David (1748-1825) 
Romantisme : Raden Saleh Sjarif Bastaman, Ludwig Richter, Kasper Friederich.
Impresionisme : Jean Claude Monet, Eduard Manet dll
Neo Impresioniesme : Paul Cezanne, Paul Gauguin, dll.
Realisme  : George Hendrik Breitner, Auguste Rodin, dll.
Simbolisme dan Monumentalisme : Willian Blake, Pierre Puvis de Chavannes, dll
Ekspresionisme : Vincent van Gogh, Eduard Munch, dll. 

·                     Seni Rupa Abad ke-20

Dengan pecahnya Perang Dunia I, timbullah berbagai gerakan perbaikan dalam bidang seni rupa yang meliputi fisik, material, mental, dan spiritual. Berdirinya Negara-negara baru sebagai hasil perjuangan negeri-negeri jajahan bangsa Eropa, telah membangkitkan semangat baru dalam bidang seni rupa.

Aliran-aliran yang bermunculan pada abad ke-20 ini antara lain fauvism yang dimotori oleh Henri Matisse, dll. Kubisme menampilkan pelukis Pablo Picasso, Leo Getel, dll. Futurisme menampilkan tokoh-tokoh peuis Carlo Carra dan Buido Severini. Absolutisme menampilakn pelukis Wassily Kadinsky.


Di poskan oleh : ardilycans.blogspot.com